‘Usul Usil Rusman Madjulekka’ Mencari Maros di Kepala Kita

Teten Dukung Terbentuknya Korporasi Peternak Domba & Kambing Karanganyar
Desember 7, 2021
PSI: Segera Serahkan Bonus Untuk Tim Thomas Indonesia
Desember 7, 2021
MAROS, jurnal-idn.com – BILA disebut kata Maros, apa dikepala orang? Bantimurung, kupu-kupu, Gunung Karst, jembatan timbang, airport, Roti Maros. Kadang juga disebut kawasan industri, kabupaten penyangga. Atau kerap diplesetkan dengan akronim ‘manre ongkoso’ (banyak biaya, red) dan lainnya. 
 
Ada juga yang bilang, sudah banyak bertebaran di spanduk, baliho yang menyebut “Maros Keren”, “Maros Sejahtera”, “Maros Beradat” dan whatever lah. Sekedar tahu, itu namanya tagline. Salah satu unsur bagian dari brand. Toh, itu pun subur pada saat musim Pilkada. 
 
Yang jelas, orang rada bingung–kalau tidak mau dibilang masih sulit–menebak brand yang pas dan tepat untuk daerah yang bertetangga langsung dengan kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, tersebut. Setidaknya, ini menjadi PR bagi pengurus Badan Promosi Pariwisata Maros yang belum lama ini terbentuk.   
 
The Heart of Java
 
Simpelnya, kita ambil contoh. Apabila seseorang menyebut nama daerah/kota misalnya seperti Pekalongan. Maka mereka langsung mengingat ‘batik’. Garut…dodolnya, Sumedang…tahunya. Atau yang lebih spesial publik mengenal misalnya Solo adalah  “The heart of Java”, Banyuwangi adalah “The Sunrise of Java”  dan sebagainya.      
 
Sebenarnya apa saja bisa disematkan brand atau merek. Entah itu benda, jasa, tempat, orang, seni, organisasi, ide/gagasan dan lainnya. Mengapa? karena satu brand adalah identitas. Satu tempat, daerah, atau kota tanpa brand, boleh dikata tak punya identitas. Istilah anak jaman now: gak jelas jenis kelaminnya…!     
 
Dalam khasanah jagat per”branding”an, dikenal istilah geographical branding. Jenis branding ini merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menunjukan keindahan, keunggulan dan untuk mengenalkan produk atau jasa ketika suatu nama lokasi, daerah ataupun kota disebutkan seseorang.
 
Memutuskan ‘brand’ memang bukan perkara mudah. Butuh riset dan kajian. Apalagi targetnya kepala setiap orang. Dia ada dalam benak, image dan persepsi. Tak salah bila ada ahli yang menyebut branding itu “Battle of Perception”.  
 
Ingat, menunda strategi branding, berarti memberi kesempatan daerah lain lebih dulu mengerjakannya.
 
Jakarta, 6 Desember 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *