Presiden Dorong Peningkatan Pelaku UMKM Dalam Ekosistem Digital
Maret 28, 2022
SPKKL Sambas Bersama Rapala Cari Nelayan Hilang di Perairan Selakau
Maret 28, 2022
JAKARTA, jurnal-idn.com – Setelah terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, Profesor Yohanes Mahuze langsung mengumumkan susunan kabinetnya dan  segera memimpin rapat perdana di Istana Negara Nusantara. 
 
Susunan menteri yang dia pilih hari ini adalah wajah-wajah baru semua. Tidak ada satupun orang lama. Tak hanya itu, semua dia pilih dengan cermat. Isinya semua adalah meritokrat yang ahli di bidangnya. Tidak ada satupun menteri yang berlatar belakang orang kaya atau karena titipan partai. Kabinet Presidensial benar benar dia tegakkan. 
 
Dia terlihat sangat rapi. Jas hitam dan padanan khas baret hijau yang dikenakan Profesor Mahuze semakin menambah kece penampilannya. Dia memang bukan model,  tapi seluruh anak-anak muda sedang menggandrungi gaya pakaian rapi dan baret hijaunya. Wajahnya yang dipenuhi kumis itu terlihat semakin berwibawa.
 
Rapat perdana hari ini terlihat begitu menegangkan. Bukan hanya karena masalah-masalah besar yang sedang terjadi di negeri ini perlu solusi cepat, tapi juga karena semua orang ingin segera melihat janji-janji besar Presiden Mahuze lakukan reformasi struktural. 
 
Dua ajudan presiden dari tadi sudah terlihat sibuk menyiapkan semua bahan rapat. Gelas dengan air mineral penuh di depan tempat duduk rapat para menteri terlihat penuh semua. 
 
“Selamat pagi saudara-saudara, selamat atas tugas baru yang diemban. Semoga kita semua segera bekerja! Sa tidak mau ada menteri yang beralasan tidak bisa jalankan program seperti yang sudah sa janjikan dalam kampanye. Sa langsung pecat! ganti yang lain!,” begitu pembukaan kata dalam rapat perdana itu. 
 
“Siap Pak!”, serentak menteri-menteri baru itu menjawab. 
 
“Jan ada model-model cari muka depan saya. Sa paling tidak suka model-model menteri macam itu. Tolong dipahami!,” lanjut Presiden Mahuze. 
 
Suasana rapat semakin terlihat menegang. Kemudian terlihat Menteri Koperasi dan BUMN angkat tangan memecah suasana.
 
” Ya silahkan saudara…eh maaf, sa lupa nama anda!. Munaldus Perang atau sapa ya?? Langsung-langsung saja bicara!.” 
 
“Maaf Pak Presiden…Munaldus Nerang bapak. Begini pak,  kementerian saya  nomenklaturnya kan berganti dari tadinya Kementerian koperasi dan usaha kecil menengah berubah jadi kementerian koperasi dan BUMN. Mohon arahan!”
 

 

“Jadi bengini Munaldus Perang….ahh …paling susah nama-nama anda ini saya ingat hahahaa…..ya memang sa gabung karena tugas Anda itu koperasikan semua BUMN BUMN yang ada. Supaya jan ada lagi mafia-mafia di dalamnya. Langsung-langsung rakyat yang memiliki itu perusahaan. Supaya rakyat kita dari Sabang sampai Sota, Merauke itu dapat merasakan hasil dari perusahaan.
Bisa dimengerti kah??”

“Siap mengerti Bapa Presiden,” jawab Menteri Munaldus Nerang. Menteri ini memang selama ini telah sukses membangun koperasi di Kalimantan Barat, dia mulai dari kampungnya Tapang Sambas nun jauh di pedalaman Sekadau lalu meluas ke seluruh provinsi itu. Dia awalnya anak orang miskin di daerah itu tapi dia memang sukses membangun koperasi di semua sektor.

“Maaf bapak Presiden, saya Mandiang Sitorus, Menteri Tenaga Kerja ingin mohon arahan. Apakah benar saya harus laksanakan program pembagian saham untuk buruh dan pembatasan rasio gaji tertinggi dan terendah sesuai janji bapak?,” seru Menteri tenaga kerja ini.

” Iyalah….. pa yang sa sudah janjikan itu langsung dijalankan. Sa tidak mau ada permainan kata-kata. Cerita di atas cerita. Itu buruh memang harus segera punya saham karena itulah yang disebut dengan ekonomi Pancasila. Termasuk itu ya…jan ada gaji miliar-miliar direktur tapi gaji buruh sangat mengenaskan….,” jawab Presiden Mahuze tegas.

“Baik bapak Presiden! siap laksanakan dan besok pagi langsung semua draft rancangan Undang-undang pembagian saham untuk buruh dan pembatasan gaji tertinggi dan terendah langsung kami mintakan tanda tangan jadi Perppu,” jelas Menteri Sitorus.

“Nah begitu, apa yang sa maksud memang menteri itu kerja cepat begitu. Urusan politik dengan Parlemen biar sa yang urus. Sa mau tahu dan lihat batang muka anggota DPR yang menentang sa punya program itu macam apa. Sa mu lawan dia,” tegas Presiden Mahuze lagi.

“Maaf bapak, mohon izin bicara …saya Menteri Reforma Agraria, apakah yang perlu saya prioritaskan??,” tanya menteri Dewi Kemuning, aktifis militan yang selama ini terkenal getol perjuangkan agenda reforma Agraria.

“Aduh mbak Dewi.. sa ini profesor di bidang Teknologi Informasi, anda yang ahli dalam bidang itu tanah. Langsung saja jalankan itu semua yang selama ini anda mau….bagi semua tanah ke buruh-buruh tani itu….sa tidak mau ada satu warga negara yang tak punya tanah sejengkalpun sementara oligarki-oligarki itu kuasai lahan sampai berjuta juta hektar. Anda su lebeh tau dari apa yang sa maksud….tolong kerjasama dengan Menteri itu Munaldus agar tanah-tanah yang dibagi itu dikelola dengan model koperasi Profesor Alexander Chayanov yang pernah sa baca…bagus sekali itu konsepnya…sa tidak mau lihat ada rakyat miskin…,” jawab Presiden Mahuze mempertegas.

 

 

“Baik Bapak Presiden,” jawab Menteri Reforma Agraria.

“Oya bagaimana dengan Menteri Keuangan? Kenapa anda diam saja??

“Siap bapak Presiden. Saya siap jalankan tugas,” jawab Menteri Keuangan Siti Maesaroh.

“Ya, anda harus serius kelola fiskal kita yang sudah hancur-hancuran bergantung sama hutang luar negeri saat ini. Anda harus hati-hati. Sa tidak mau lihat ada tambahan hutang lagi. Semua hutang-hutang haram itu mesti dinegosiasi ulang…jan sampai kita pu anak cucu semakin menderita sementara kita-kita ini hidup foya-foya main proyek kanan kiri….tolong ya Bu Menteri…”.

“Baik Bapa Presiden. Siap jalankan tugas,” jawab Menteri Siti.

Menteri Siti ini memang sangat terkenal sekali memperjuangkan penolakan utang dan lulusan terbaik dari Universitas Gajah Mada ini sudah lama jadi pengamat ekonomi yang analisa-analisanya sangat tajam dan berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.

“Bagaimana Pak Menteri Pendidikan??…ada yang perlu disampaikan? Pesan saya pada anda…jan ada lagi permainan proyek atas nama pendidikan lagi ya…. dan paling penting pendidikan itu harus membebaskan anak-anak kita,” Presiden Mahuze sambil matanya menatap tajam ke Menteri Pendidikan Naharrudin.

“Baik Bapak !…saya akan jalankan amanah sepenuh hati.”

“Oya ini untuk Bu Menteri pertahanan ini….sa minta anda mesti jaga kedaulatan kita sampai mati-matian…jan semua semua pakai pendekatan militer terus hantam sodara sendiri…..kalau ada tentara atau polisi yang sakiti rakyat sedikitpun sa langsung pecat anda…..dimengertikah Bu Helena??

“Siap bapa Presiden….sa akan jalankan tugas sesuai dengan amanah anda….,” jawab Menteri Pertahanan Helena Soares.

“Bukan amanah saya tapi amanah Konstitusi.”

“Baik bapa….sa su mengerti “, jawab Menteri Soares.

“Pak Menteri perdagangan dan industri bagaimana? ….itu masalah sembako jan sampai kita kalah dengan kelakuan mafia kartel pangan ya???,” kata Presiden.

 

 

“Tentu bapak….saya akan terapkan sistem kebijakan agar kurangi perlahan-lahan ketergantungan importasi pangan dan kembangkan indsutri rakyat dengan kebijakan substitusi impor…tapi dengan model yang bapak sudah janji tulis dalam visi dan misi Presiden….,” jawab Menteri Perdagangan Ida Bagus Sumekto.

“Ya begitu….sa tidak mau kita pemerintah ini wibawanya jatuh di mata rakyat karena kalah dengan mafia kartel pangan…tolong koordinasikan serius dengan Menteri Pertanian dan kelautan ya….kalau ada yang main main lagi sa sikat langsung….,” tegas Mahuze.

“Oke Pak,” jawab Menteri Perdagangan dan Industri. Menteri Pertanian juga terlihat mengangguk tanda setuju.

Sodara-sodara, kita ini adalah hanya pembantu …pesuruh rakyat….dorang yang punya kuasa sesungguhnya. Saya minta kerja serius dan jalankan amanah mereka dengan sungguh-sungguh. Stop dengan permainan-permainan lama….tong musti ada perubahan besar dan ini yang sa su sampaikan dalam pidato pelantikan sa tho?. Sa tidak mau dengar ada rakyat yang hari ini lapar setengah mati. Sa sendiri ada merasakan betapa berat menahan lapar itu di masa kecil sa….ayah dan ibu sa sudah meninggal sejak kecil dan sa hidup sebatang kara. Tidak ada yang bantu…sa mesti cari hidup sendiri cari kelapa jatuh dan kangkung di rawa-rawa untuk sa jual buat makan. Jadi sa tahu persis penderitaan itu bagaimana ….sa juga minta supaya semua menteri itu bicara langsung dengan hati rakyat….di sini anda sa pilih sebagai orang-orang yang sungguh sa tahu track record dan perjuangan di bidang masing-masing. O ya lagi, kalau ada yang korupsi uang rakyat satu senpun sa langsung pecat. Sa tara mau tau…jan ada main mata dengan orang-orang partai atau pengusaha untuk kongkalikong lagi….sa sikat batul !…satu hal lagi terakhir….semua menteri sa harap lepas gaya sebagai pejabat….musti berbaur dengan rakyat…..sekian dan terimakasih dan selamat bekerja,” tutup Presiden Mahuze.

Menteri-menteri itu terlihat mulai saling bicara antara satu dengan yang lainya. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin ada yang belum saling kenal dan berkenalan. Tapi mereka begitu terlihat sangat serius semua.

Presiden Mahuze adalah Presiden pertama dari putra Papua dan dia terpilih secara langsung dalam Pemilu 2029. Dia adalah profesor di bidang teknologi informasi tapi dia juga seorang pejuang sejati. Dia paling pandai bergaul lintas batas. Sangat luwes dan vulgar orangnya. Pengalamannya perjuangkan nasionalisasi asset Freeport sangat sukses. Tak hanya itu, ahli teknologi informasi ini ternyata hidupnya pun sangat sederhana dan hidup bersama rakyat dengan bertani dan penuhi makanan keluarganya dari hasil kebunnya sendiri yang dia kerjakan selesai mengajar di kampusnya Universitas Cendrawasih.

“Eh, saya bermimpi sewaktu tidur ya.”

Jakarta, 19 Maret 2022

Suroto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *