LPPM USU Mengajak Masyarakat Desa Seribu Jandi Mengolah Jeruk Afkir Menjadi Produk Multiguna

KemenKopUKM Bersama Peritel Global Perluas Pasar Ekspor UKM
Agustus 16, 2022
Perkuat Keamanan Siber, KemenKopUKM Bentuk Tim Tanggap Insiden
Agustus 16, 2022
SERIBU JANDI-SUMUT, jurnal-idn.com – Desa Seribu Jandi merupakan salah satu sentra penghasil jeruk di Provinsi Sumatera Utara. Produksi jeruk pada saat panen menyisakan jeruk afkir sekitar 10%. Jeruk afkir ini dapat mencemari lingkungan karena dibuang di lingkungan desa. Kita dapat mengolahnya menjadi eco-enzim. 
 
Selain menjaga lingkungan, eco-enzim ini banyak sekali manfaatnya,” ujar Dr. Rudy Sofyan, S.S., M.Hum, ketua tim pengabdian ini yang juga mengajar sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 
 
Pelatihan pembuatan eco-enzim dibawakan oleh Dr. Ir. Nurzainah Ginting, M.Sc, bertempat di Losd Desa Seribu Jandi yang dihadiri oleh warga dan perangkat pemerintahan Desa Seribu Jandi. 
 
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktek pembuatan eco-enzim tersebut adalah buah jeruk afkir yang dikumpulkan dari lokasi ladang jeruk warga desa. 
 
“Membuat eco-enzim ini dibutuhkan molase, jeruk afkir dan air dengan perbandingan 1:3:10. Contohnya 1kg molase, 3kg jeruk afkir dan 10 liter air bersih. Air yang digunakan sebaiknya air tanah atau air sungai. Bukan air PAM karena mengandung kaporit”, demikian dipaparkan Dr. Ir. Nurzainah Ginting, M.Sc.
 
Setelah semua bahan diaduk, maka tutup rapat wadah drum plastik. Selanjutnya, pada 5 hari pertama dilakukan pembukaan tutupnya selama 5 menit untuk mengeluarkan gas. 
 
Wadah tertutup harus disimpan di tempat kering dan sejuk selama 3 bulan. “Setelah 3 bulan itu nanti cairan eco-enzim baru bisa disaring dan dipisahkan ke wadah baru atau botol-botol plastik,” jelas Dr. Nurzainah Ginting. 
 
Proses fermentasi pembuatan eco-enzim berlangsung selama 3 bulan. Setelah itu cairan yang dihasilkan, yaitu berwarna coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi jeruk yang segar, sudah dapat dimanfaatkan. Eco-enzim dapat digunakan sebagai pupuk cair organik (katalisator) tanaman, campuran deterjen, pembersih lantai, pembersih sisa pestisida, pembersih kandang ternak dan sebagai bahan pembersih lainnya.
 
 
Salah seorang peserta pelatihan, Rame Siagian (58) mengatakan dia sangat bersemangat dan senang saat mengetahui bahwa USU mengadakan program pelatihan Optimalisasi Jeruk Afkir Menjadi Produk Multiguna di Desa Seribu Jandi. “Sampai saat ini kami belum pernah membuat eco-enzim, begitu banyak jeruk afkir di ladang yang membuat petani resah. Sekarang kami jadi dapat memanfaatkannya,” tuturnya.
 
“Banyak manfaat yang didapatkan di sini, salah satunya kita bisa membantu mengurangi sampah dan limbah buah jeruk sekaligus juga menurunkan serangan hama lalat buah,” ungkap Rame Siagian.
 
Produksi eco-enzim bahkan tidak memerlukan bak komposter dengan spesifikasi tertentu. Wadah-wadah seperti botol-botol bekas air mineral maupun bekas produk lain yang sudah tidak digunakan, dapat dimanfaatkan kembali sebagai botol kemasan hasil fermentasi eco-enzim. 
 
Hal ini juga menjadi nilai tambah karena mendukung konsep reuse dalam menyelamatkan lingkungan.
 
Pelatihan pembuatan eco-enzim sangat menarik untuk diperkenalkan sebagai salah satu cara mengoptimalisasi jeruk afkir maupun daur ulang sampah organik lainnya menjadi produk multiguna dan memiliki nilai jual.
 
Program Optimalisasi Buah Jeruk Afkir Menjadi Produk Multiguna yang diadakan oleh LPPM USU tersebut merupakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilandasi kepedulian terhadap permasalahan sosial di desa. 
 
Kegiatan ini melibatkan masyarakat desa, dosen dan mahasiswa USU yang diketuai oleh Dr. Rudy Sofyan, S.S., M.Hum dengan anggota Dr. Ir. Nurzainah Ginting, M.Sc, Prof. Dr. Zuhrina Masyithah, S.T., M.Sc dan Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
 
AYRP
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.