LPOI Ingatkan Bahaya Fanatisme Ekstrem Agama

Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua IV Wilayah Adat IV Bomberay
September 25, 2021
Presiden Lepas 1.500 Tukik di Cilacap Agar Tidak Punah
September 25, 2021
JAKARTA, jurnal-idn.com – Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (Sekjen LPOI) Denny Sanusi mengingatkan adanya bahaya fanatisme ekstrem agama yang dapat memecah belah masyarakat.
 
“Fanatik kepada agama pada dasarnya fine (biasa) saja. Memang kita harus fanatik dengan cermat, karena ketika fanatik itu mulai menyalahkan orang lain yang berbeda agama atau keyakinan dan mulai berlaku ekstrem, itu yang tidak boleh,” ujar Denny Sanusi di Jakarta dalam keterangan tertulisnta, Sabtu (25/9/2021).
 
Menurutnya fanatisme ekstrem justru hanya membawa kemudaratan bagi umat, karena dapat memicu timbulnya sikap merasa paling benar, ingin menang sendiri bahkan prasangka-prasangka buruk antar masyarakat dan umat beragama.
 
Lebih lanjut dia juga menyoroti maraknya institusi pendidikan bahkan rumah ibadah yang kini mulai menunjukkan gerak-gerik adanya praktek intoleransi. Yang dia khawatirkan justru akan semakin memperburuk keadaan masyarakat yang kini mulai terpecah belah.
 
“Saya mendapati dari penelitian, bahwa beberapa institusi pendidikan bahkan rumah ibadah sudah tidak lagi menjalankan rukun dakwah sebagaimana mestinya. Rukun dakwah itu sudah tidak dipakai lagi,” ucap pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPP PITI) itu.
 
Apalagi, saat ini dia melihat banyaknya masyarakat yang terjerumus pada radikalisme yang diakibatkan oleh keliru memilih majelis dan guru-guru agama. Sehingga dia mengingatkan kepada masyarakat untuk senantiasa cermat memilih institusi pendidikan, majelis dan ulama.
 
“LPOI terus mengimbau untuk hati-hati karena jangan sampai kita salah guru yang akhirnya menjerumuskan kita menjadi intoleran, harus cermat dan teliti jangan sampai terlanjur terjebak nantinya,” ujarnya.
 
Cermat Dan Teliti
 
Masyarakat harus tahu akar, silsilah, bahkan historis dari ‘tempat belajar’ yang akan mereka timba ilmunya. Sikap cermat dan teliti memilih tersebut niscaya akan menghindarkan diri dari doktrin radikal dan intoleransi.
 
“Sebenarnya ada faktor utama yang menyebabkan seseorang mudah terjerumus dalam radikal dan intoleransi yaitu rendahnya wawasan atau kebodohan,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) ini.
 
Kurangnya wawasan membuat seseorang mudah sekali didoktrinasi, sebagaimana dia mempercayai bahwa kebodohan adalah pangkal dari segala sesuatu yang negatif. Maka dari itu di sinilah peran ormas agama untuk ikut membantu memberi pemahaman agar masyarakat tidak mudah dijerumuskan.
 
“Saya merasa sangat penting sekali dengan ormas keagamaan bisa bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), karena ormas ini dapat memberikan pengertian bagaimana cara beragama yang baik. Inilah fungsi ormas untuk bisa menyentuh hingga ke bawah,” ungkap Pendiri Yayasan Pembinaan Muallaf AMOI ( Aku Menjadi Orang Islam) itu.
 
Dikatakan Denny, LPOI dan LPOK sebagai Lembaga yang bermitra dengan BNPT juga ikut berupaya menangani fenomena radikalisme dan intoleransi, salah satunya melalui memorandum of understanding (MoU) dengan beberapa pemangku kepentingan dalam hal pemberdayaan mantan napiter (narapidana terorisme) yang baru bebas. Salah satunya dengan program pelatihan, pemberian modal usaha dan pembekalan pada tahap reintegrasi sosial.
 
“Bahwasanya radikalisme ada pekerjaan rumah yang harus diberikan solusi pemecahannya dan hal ini harus mendapat perhatian serius baik dari pemerintah dengan mengerahkan seluruh lapisan masyarakat termasuk ormas,” ujarnya.
 
ABDI JAYA – ANT
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *